RINDU~

Saya ingin mengajak anda berimajinasi malam ini. Tapi pertama-tama agar lebih mudah, duduklah diatas lantai dengan alas sojadah (atau karpet berukuran kecil). Bayangkan bahwa aku dalam tulisan ini adalah anda. Dan mari membaca dan berimajinasi.

Malam ini aku berjalan melewati lorong antara dua bangunan tiga lantai yang saling berhadapan. Sembari menenteng sebuah buku bacaan dan sojadah, tangan kiriku berayun menikmati alunan bunyi langkah kakiku. Sesekali aku menarik nafas dalam untuk menikmati segarnya udara malam ini. Aku berbelok memasuki sebuah aula berdinding tripleks yang tingginya hanya sebatas leher. Berjalan santai menuju salah satu sisi ruangan dan duduk bersandar beralaskan sojadah diantara dua rak buku yang saling berdampinngan. Ruangan itu masih ramai dengan aktivitas manusia. Ada yang bercakap-cakap dan tertawa, ada yang sekedar menikmati dinginnya lantai, dan ada yang hanya melamun entah apa yang sedang dipikirkan. Sekali lagi aku menarik nafas dalam, membuka buku lalu terbenam dalam bacaan. Udara malam ini menciptakan kenyamanan membaca yang amat nyaman hingga rasanya aku tak ingin beranjak dari tempat ini. Semakin malam, bumi disekitarku semakin sepi dari suara manusia. Suara alam kini lebih jelas terdengar. Daun daun bambu menciptakan bunyi saling gesek antara satu sama lain. Jangkrik dan kawanannya menciptakan nyanyiannya sendiri mungkin mereka sedang berusaha menarik pasangannya. Sungguh menyenangkan menikmati nyanyian alam dengan sebuah buku ditangan. Waktu kian berlalu, kenyamanan itu kini semakin melenakan. Denting jam dinding juga mulai membesarkan suaranya. jangkrik-jangkrik itu mungkin sudang menikmati malam bersama pasangannya, suaranya semakin sepi. Dedaunan dan angin masih setia beriringan menciptakan nyanyian malam, bahkan suaranya semakin merdu saja.

Apakah saya sudah berhasil mengajak anda berada dalam ruangan yang sama??

Sudah masuk tahun ke-3 aku meninggalkan tempat itu. Itu hanya sebagian kecil gambarannya di malam hari. Ketika cahaya matahari pagi mulai membirukan langit, aku dapat melihat indahnya gunung ciremai bertopikan awan pagi. Udara pagi amat sangat segar, terkadang bahkan aku bisa merasakan sensasinya berbicara sambil mengeluarkan uap. Daun-daun dan tembok basah oleh embun. Dan semua pemandangan itu akan semakin indah jika dinikmati dari atap bangunan 3 lantai sembari duduk dengan sebuah teh hangat. Pasti sangat nyaman. Sayangnya aku tak pernah meminum teh di salah satu tempat favoritku itu, lebih karena aku terlalu malas meninggalkan pemandangan pagi hari yang melenakan itu, dan lagi aku malas untuk mencari kemana perginya gelas di bangunan yang dihuni ratusan orang tersebut.

Bagaimana kali ini? Sudah berhasil?

Sejujurnya, aku amat sangat merindukan untuk kembali ketempat itu. Tapi kali ini aku belum punya alasan yang tepat untuk kembali, dan lagi masih banyak yang harus kuselesaikan di tempatku saat ini. Kalau ada kesempatan untuk kembali, sunggu aku sangat ingin kembali. Aku amat-amat sangat merindukan suasana itu sampai-sampai malam ini rasanya aku ingin memimpikannya. Dan aku berharap didalam mimpi itu aku bisa bertemu teman-temanku dari tempat itu, yang kini juga tengah menjalani kehidupannya ditempat yang berbeda. Apa kali ini aku berhasil mengajak anda menikmati kerinduanku yang tertuang pada tulisan ini? Aku harap kalian tidak merasakannya karna ini sangat menyiksa. Sungguh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GALAU

organisasi dan mager

hidup :)