kotretan
Mm.. harus aku mulai dari mana ya?
Ok kita
coba mualai menulis apa saja yang terlintas dikepala. Saat ini aku sedang terkenang teman-teman di pondok. Tepatnya ketika awal
aku mengenakan seragam putih abu-abu. Ya
tepat sekali, seragam SMA. Tak banyak yang berbeda dengan saat SMP hanya
seragam dan wajah-wajah baru yang sekarang menghiasi kelas walaupun masih ada
juga wajah-wajah yang sudah familiar. Dan satu lagi, kalau dihitung-hitung
jumlah orang dalam kelas berbeda dari saat SMP. Hanya selisih beberpa orang
santri saja. Angkatan kami memang sepertinya akan selalu jadi angkatan yang
jumlah santrinya sedikit, dan memang begitulah kenyataannya. Aku masih ingat
nama-nama temanku ketika awal masuk. Akan kuperkenalkan seiring dengan kalian
membaca cerita ini.
Sebenarnya
kami ketika awal tahun ajaran tidak bisa dibilang berjumlah sedikit. Karena seingatku
kelas kami bahkan mencapai angka 30 santri. Tapi seiring berjalannya waktu
ternyata hanya tinggal 22 orang dari kamilah yang bertahan. Dan yang
menakjubkan nya angka 22 itu sudah menemani kami sejak kelas satu smister dua
berjalan. Kenapa? Akan kuceritakan
alasannya nanti.
Aku
sebenarnya sudah tidak asing dengan sekolah SMA ku ini karna aku menghabiskan
masa SMP ku ditempat yang sama bersama 8 orng teman yang sekarang juga ikut
melanjutkan SMA nya di sini. Anisa, Citra, Nabil, Putri, Nida, Wafa, Tria dan Tsabita.
Kamilah 9 orang santri yang masih setia dengan Almamater pondok. Tahun ajaran
baru tak memberikan pengaruh besar buat kami, kami sudah sangat mengenal pondok
yang kami tinggali selama 3 tahun terakhir. Jauh dari kampung halaman dan orang
tua. Hanya saja karna ini tahun ajaran
baru dan kami sudah dijenjang yang lebih tinggi ada sdikit perubahan dari
biasanya. Yang paling mencolok adalah jumlah santri. Beberapa teman- teman kami
saat SMP sudah memulai sekolahnya dengan Susana yang baru. Kami tak seberuntung
mereka bisa meerasakan udara sekolah baru tapi kami juga beruntung mendapatkan
teman-teman baru yang menakjubkan.
Ada yang
unik sebenarnya dari awal bermulanya keakraban kami. Awalnya kami tak begitu
menyadari perubahan yang terjadi. Entah kata-kata apa yang tepat menggambarkan
perasaan kami saat itu tapi yang ku tau kami lebih sering berkumpul dengan
teman-teman dari SMP yang sama. Semuanya berjalan nyaman-nyaman saja bagi kami
yang sudah terbiasa dengan suasana pondok pesantren tapi ternyata itu membuat
teman-teman baru kami tidak nyaman. Merak berfikir kami tak ingin bergabung
dengan mereka padahal kami hanya belum terlalu akrab jadi kurang berbaur. Ustadzah
beberapa kali memperingati kami santri-santri lanjutan untuk membaurkan diri. Tapi
tetap saja masih lebih nyaman berkumpul dengan teman-teman lama.
Akhirnya
ustadzah mengeluarkan gagasannya. Saat itu perpindahan kamar. Dan setiap
mantiqoh dihuni oleh tiap-tiap kelas. Kamar-kamar kami di pisahkan. Kami anak-anak
lama di satukan dengan 3 atau 2 anak baru dari teman kelas. Kami memang sudah
saling kenal karna interaksi dikelas tapi belum akrab karna ketika d asrama
kami lebih memilih berkumpul di satu kamar yang berpenghuni sesama anak lama. Ternyata
gagasan ini adalah gagasan yang sangat baik dalam menyatuhkan kami tapi
disinilah awal mula beberapa teman kami tersisih.
Karna interaksi
yang sering kami semakin lama semakin akrab satu sama lain. Bahkan sekarang
sudah jarang sekali kami hanya berbaur dengan teman SMP yang sama. Tapi ternyata keakrban kami membuat kami senang berkumpul bersama-sama
dan melakukan hal-hal yang didalam undang-undang pondok dilarang. Contohnya saja
kami sering sekali berkumpul dikamar Nabillah kemudian menyanyi LG alias lagu
jahiliah terang-terangan sambil menepuk-nepuk gallon sehingga menimbulkan
kebisingan. Awalnya ini tak begitu menjaadi masalah hingga bebrapa kali kami ditegur
oleh ustadzah karna tidak mengikuti
kegiatan belajar malam. Selain itu kami juga sering bersembunyi ketika sedang
pemeriksaan kamar untuk ke mushollah. Ada yang sembunyi d kolong tempat tidur,
ada yang dbalik selimut, cucian bahkan d atas lemari. Pelangaran- pelanggaran
kecil yang kami buat membuat ustdzah memperketat peraturan dan kamipun kena
batu dari perbuatan kami. Walaupun awalnya hanya ancaman. Gak cuma samape disitu
saja. Beberapa dari kami pun ada yang membawa handphone yang sangat haram
dibawa santri. Ternyta pelangggaran ini tercium oleh walas. Dan handphone teman
kami pun disita. Peraturan semaki diperketat. Kami mulai kembai kekebiasaan
santri. Hidup dengan hukuman jika melnggar dan taat jika ingin tenang. Ternyata
menyesuaikan diri untuk anak baru bukan hal yang mudah, padahal saat itu kita
sudah memasuki semister dua. Beberapa dari mereka memutuskan untuk pindah.
Tahun itu benar benar masa yang
suram untuk angkatan kami. Aku tak begitu ingat urutannya tapi aku masih ingat
nama anak-anak yang gugur ketika itu. St. Nabilah atau biasa di panggil Este,
asal batam. Sebenarnya salah satu alasan dia pindah karna dia sakit. St paling
hebat kalau soal menabuh gandang alias gallon yang sering kita sulap jadi
gendang-gendangan atau kursi saat di kelas. Talita dan Najla keturunan arab
asli Cirebon ntah apa alasan aslinya mereka pindah tapi kenangan bersama mereka
tak terlupakan. Talita yang cerewet sempat menjadi ketua kelas. Lebih tepatnyasih
menobatkan diri sendiri sebagai ketua kelas hahaha. Saat itu walau kelihatannya
menerima, beberapa dari teman-teman tetap berceloteh di belakan. Maaf kan kami
talita tapi talita teman yang baik. Kemudian Najla, sikap manjanya terkadang
suka menjadi mainan teman-teman. Aku masih sangat ingat intonasi, caara dan
gaya bicara Najla yang khas. Yang aku tak pernah bisa lupa tentanf talita dan najla saat mereka
memperebutkan posisi menjadi pasangan salah satu ikhwan yang juga keturunan
arab. Kemudian riza, asal Cirebon. Menurutku dia erlalu pendiam walaupun
terkadang juga berbicara. Aku tak begitu mengenanya sampe kami sekamar, itupun
tak lama karna ia pindah saat kami sekamar. Aku ingat fera sering sekali
mengomeli kami berdua. Aku tidak tau apa yang dirasakan riza tapi kalau aku
jujur saja tak terpengaruh walau diomelin bagaimana pun hahaha maaf kan aku
fera tapi ini sudah lama berlalu. Aku mendapat kenang-kenangan dari riza, dia
memberikan lebih tepatnya aku meminta embernya, yang aku pakai hingga aku
lulus. Thanks riza. Masih ada laili, tantri, nurul dll yang mungkin aku lupa. Mereka
punya tempat di hati kami sebagai teman walaupun tak ikut berjuang selama 3
tahun bersama kami.
~bersambung~
Komentar
Posting Komentar